Selasa, 09 Agustus 2011


Kematian memang di tangan Allah. Maka ada satu hal yang bisa membuat kematian menjadi sesuatu yang bisa ditunda, yaitu kemauan bersedekah, kemauan berbagi dan peduli.
SUATU hari, Malaikat Kematian mendatangi Nabiyallah Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?”
“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”
“Ada apa dia datang menemuimu?”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”
“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.” Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabiyallah Ibrahim. Hampir saja Nabiyallah Ibrahim tergerak untuk rriemberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabiyallah Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.
Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Nabiyallah Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang umurnya.
Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah Ibrahim bertanya kepada Malaikat Kematian, apakah dia berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai besok pagi? Malaikat Kematian menjawab bahwa dirinya memang akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi Allah menahannya.
“Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?”
“Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.”
Saudara-saudaraku, pembaca “Kajian WisataHati” dimanapun Anda berada, kematian memang di tangan Allah. justru itu, memajukan dan memundurkan kematian adalah hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam Rasul-Nya, Muhammad shalla `alaih bahwa sedekah itu bisa memanjangkan umur. jadi, bila disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda kematian, itu adalah…sedekah.
Maka, tengoklah kanan-kiri Anda, lihat-lihatlah sekeliling Anda. Bila Anda menemukan ada satu-dua kesusahan tergelar. maka sesungguhnya Andalah yang butuh pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu digelar Allah untuk memperpanjang umur Anda. Tinggal apakah Anda bersedia menolongnya atau tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar memang Allah akan memanjangkan umur Anda.
Saudara-saudaraku sekalian, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan sampai. Dan, tidak seseorangpun yang mengetahui dalam kondisi apa ajalnya tiba. Maka mengeluarkan sedekah bukan saja akan memperpanjang umur, melainkan juga memungkinkan kita meninggal dalam keadaan baik. Bukankah sedekah akan mengundang cintanya Allah? Sedangkan kalau seseorang sudah dicintai oleh Allah, maka tidak ada masalahnya yang tidak diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut dalam keadaan husnul khatimah.
Mudah-mudahan Allah berkenan memperpanjang umur, sehingga kita semua berkesempatan untuk mengejar ampunan Allah dan mengubah segala kelakuan kita, sambil mempersiapkan kematian datang.
Sampai ketemu di pembahasan berikutnya. Insya Allah, kita masih membahas “sedikit tentang menunda umur, tapi kaitannya dengan kesulitan-kesulitan hidup yang kita hadapi “.

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan” (An-Nisaa: 78)

Happy Fasting

KEISTIMEWAAN Ramadan, terdiri dari tiga bagian. Sepuluh hari pertama, adalah rahmat. Sepuluh hari kedua, adalah ampunan. Sepuluh hari ketiga adalah pembebasan dari api neraka. Wahuwa syahrun awwaluhu rahmatun wa awsatuhu maghfiratun wa akhiruhu itqun minannari (H.R. Ibnu Khuzaimah).

Orang yang melaksanakan puasa Ramadan, harus menjaga diri dari berbagai hal yang akan mengurangi, merusak bahkan membatalkan saumnya sehingga akan kehilangan momentum memperoleh rahmat, ampunan, dan pembebasan dari siksa neraka. Orang yang berpuasa tanpa memelihara dirinya dari hal-hal yang merusak puasa, hanya akan mendapat lapar dan dahaga belaka. Itu dikarenakan berpuasa kosong dari amal-amal salih. Sambil berpuasa, masih tetap mengerjakan perbuatan-perbuata tercela, baik di hadapan Allah swt maupun di hadapan sesama manusia.

Sebagai bulan rahmat, pada sepuluh hari awal Ramadan (1-10), orang yang berpuasa harus berupaya membuat kebaikan dan kebajikan. Memperbanyak ibadah kepada Allah swt serta memperbanyak pertolongan kepada sesama manusia. Sebab, sesungguhnya rahmat Allah, amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. Inna rahmatallahi qaribun minal muhsinin (Q.S. 17 : 56).

Pada sepuluh malam kedua (11-20), adalah malam-malam magfirah. Malam-malam ampunan. Bagi orang berpuasa, yang mengisi malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih, tadarus Alquran, serta menjaga diri dari hal-hal yang merusak nilai puasa, akan tertutupi dosa-dosanya di masa lalu (H.R. Ibnu Hibban).

Pada malam ketiga (21-30), yang disebut mamaleman atau lailatul qadar, adalah kesempatan besar untuk menggabungkan rahmat dan ampunan, agar mencapai itqun minannari. Pembebasan dari siksa neraka. Suatu kehendak yang selalu diutarakan pada setiap doka. Termasuk ketika akan menyuapkan makanan (Allohumma bariklana fi ma razaktana wa qina adzaban nar). Juga doka "sapu jagat" memohon kebahagiaan dunia dan akhirat, serta pembebasan dari siksa neraka. Robbana atina fid dunya hasanah, wa fil ahirati hasanah, wa qina adzaban nar (Q.S. 2 : 201).

Menegakkan malam qadar, dengan salat, tadarus, doka, serta Iktikaf, adalah bagian dari ibadah mengisi malam-malam mulia senilai seribu bulan. Semoga puasa kita berhasil melampaui ketiga babak Ramadan itu dengan mulus, karena kita telah menempuhnya dengan puasa, salat malam berikut segala kegiatan ibadah lainnya, serta Iktikaf. Maka jadilah kita seorang Muslim beriman yang telah meraih rahmat, magfirah dan pembebesan dari siksa neraka.